Seandainya ada wireless electricity charger

•October 11, 2009 • Leave a Comment

sebuah impian yang semoga bisa terwujud,

seperti halnya ketika membayangkan ponsel layar berwarna saat ponsel monokrom membanjiri pasar,

seperti halnya membayangkan video call terealisasi pada saat nonton film star trek,

seperti halnya membayangkan internet broadband bisa dinikmati oleh siapa saja dan unduh file berukuran besar dalam hitungan menit, ketika jaman internet masih leased line

seperti halnya belanja online dan bertransaksi online,

nah, apakah suatu saat nanti bisa terealisasi sebuah wireless charger ponsel, notebook, dan electronic equipment lain yang bekerja dengan konsep seperti Wi-Fi…,biar tampak rapi..

gemes juga lihat kabel adaptor  notebook dan ponsel yang bertebaran dimana-mana dan hampir membuat saya terpelanting karena tersangkut kabel.

kapan ya bisa terwujud:)

Turnovers penggunaan notebook dan ponsel saya kok tinggi ya..budaya konsumerismekah??..tunggu dulu,baca ulasan saya berikut ini

•August 6, 2009 • Leave a Comment

Dalam satu tahun terakhir ini tercatat turnovers penggunaan notebook dan ponsel saya sedikit meningkat. Tercatat 8 kali saya berganti notebook dan 10 kali berganti ponsel. Memang bukan jenis notebook dan ponsel hi-end yang say a beli, tapi frekuensi gonta-gantinya itulah yang sampai membuat istri saya geleng-geleng kepala. Perlu digaris bawahi bahwa saya adalah orang yang suka memaksimalkan inventaris barang yang saya miliki. Kalau bukan karena alasan rusak atau fungsionalnya yang sudah mulai terbatas pasti barang tersebut akan saya gunakan terus.

Dari Compaq 3352TU à Acer 4520 à Lenovo ThinkPad R60 à Acer 4520 (lagi) à IBM ThinkPad X40 à Fujitsu P7010 à Acer 2420 à Netbook OEM (tanpa Merk-hingga saat ini) sempat saya gunakan untuk aktivitas kerja saya sehari-hari. Sebagian besar notebook tersebut ditukar karena dibeli oleh asisten dan pegawai saya di kantor. Tidak tega rasanya mereka selalu menanyakan kapan notebook tersebut mau dijual. Perasaan itulah yang akhirnya membuat saya merelakan setiap laptop yang baru saja saya beli untuk kemudian dibeli oleh mereka. Untungnya ke tujuh notebook yang mereka beli sampai saat ini dalam kondisi baik dan berfungsi secara maksimal..netbook putih seksi yang saya pakai saat ini juga sudah ditaksir oleh rekan satu kantor saya.duh..kalau memang jadi mau dibeli habis ini mau pakai apalagi ya..

Nasib serupa juga terjadi dengan ponsel saya. Banyak ponsel saya yang dibeli (bahkan dibeli dengan paksa) oleh staf saya di rumah sakit, karena alasan ponsel saya sudah banyak saya kustomisasi mulai dari tampilan hingga kinerjanya. Lha yo wajar kanJ, kita oprek ponsel kita supaya kita tidak bosan dan terhindar dari perilaku konsumerisme..

Bagaimana menurut anda, apakah saya termasuk orang yang konsumtif?

ketika setiap detik terasa begitu berharga…

•August 6, 2009 • Leave a Comment

Saya lupa kapan saya mengalami hal yang akhirnya menjadi judul blog saya kali ini. Sepertinya sudah hampir 3 bulan berlalu. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan menuju ke tikiJNE untuk mengirimkan paket notebook milik kakak saya yang baru saja selesai direparasi. Dengan mengendarai skuter matik Yamaha Mio biru kesayangan yang sudah menemani hampir 3 bulan lamanya juga saya mampir dulu ke Plaza Semanggi karena ingin beli buku dan janji makan siang bersama relasi kerja. Setelah makan siang, perut kenyang, dan bibir manyun karena obrolan tak karuan kesana kemari akhirnya saya hendak melanjutkan perjalanan ke JNE dan kemudian pulang…kerjaan hari ini beres,kapan lagi bisa pulang siang seperti ini hehehe. Tapi ketika hendak menuju ke basement,terlihat dari jendela hujan begitu deras..weks gawat nih..siaga satu rupanya..tidak ada tanda apa-apa kok hujan!!,secara informasi cuaca dari HTC kesayangan saya menunjukkan cuaca Jakarta siang itu hanya berawan tanpa ada indikasi kea rah hujan…ugh..dosa kali ya karena pas makan siang ngobrolin masalah pertanian yang carut marut karena iklim yang tidak bisa ditebak.

Akhirnya balik lagi ke Plaza Semanggi sambil muter-muter menunggu hujan reda. Sebenarnya bisa sih langsung menerobos hujan pakai mantel,Cuma ada notebook milik kakak dan beberapa barang elektronik yang saya taruh di motor,kalau kena air cilaka deh. Sedikit menyesal juga kenapa batere notebook saya juga sudah koit siang itu. Hujan sudah reda, SIP..! saya langsung turun ke basement untuk mengambil motor dan bergegas ke JNE.sepanjang perjalanan menuju ke JNE menjadi saat yang sangat tidak menyenangkan.walau sudah tidak hujan,ternyata di sebagian tempat masih ada sedikit gerimis dan hujan rintik-rintik.pemberhentian lampu merah jadi terasa menyiksa lebih dari saat menahan buang air di perjalanan. Berharap semoga hujan tidak turun dulu selama perjalanan ke JNE. Ah..baru sekarang terasa tiap detik begitu berharga..Subhanallah, saya masih diingatkan oleh Allah SWT atas semua kemurahan, rezeki, dan limpahan rahmat-Nya yang saya terima darinya di tiap detik kehidupan ini..

From BB Curve 8310 to 8320 Black ROGERS

•February 6, 2009 • Leave a Comment

Akhirnya punya juga sebuah handset Blackberry Curve 8310 Titanium dengan carrier Vodafone. Setelah membuat tulisan pro-cons tentang BB akhirnya saya malah dihadapkan dengan kondisi pekerjaan yang mengharuskan saya untuk bisa mengakses email secara real time dan tuntutan respon akan jawaban email menyangkut pekerjaan yang cukup cepat. Nasib, kualat kali bikin ulasan kemarin.untung saya tidak bikin ulasan pro cons tentang volkwagen caravelle:D,bisa-bisa kualat trus dipaksa beli caravelle:D hue hue

Yap!,pertama kali yang muncul dikepala saya adalah pusing membayangkan berapa harga sebuah handset BlackBerry, mahal!.tapi tunggu dulu, mahal tidaknya sebuah barang itu relatif dibedakan dari tingkat manfaat yang didapatkan. Sesuai hukum ekonomi ala saya, minat utama saya adalah mencari handset yang tidak terlalu mahal tapi bisa dioprek sepuasnya:D

Setelah menimang-nimang isi dompet dan meminta masukan dari para dedengkot BlackBerry akhirnya terpilihlah handheld BlackBerry Curve 8310 titanium versi limited dengan carrier Vodafone untuk menemani aktivitas saya. Thanks buat bro di Surabaya yang telah membantu memilihkan handset yang tepat untuk saya. Tepat, Murah, dan dibawah harga pasaran..serta resmi dengan segel ditjen postel untuk menjamin kenyamanan berakses menggunakan blackberry service.

Kesan pertama menggunakan handheld is,amazing sekaligus bingung:D. That’s very rare machine with specific interface, unlike windows mobile. Banyak item dan icon baru yang sama sekali berbeda dengan device yang lain. Sampai harus dipandu via telpon untuk mengeset blackberry servicenya..then it has been done..push email aktif, bb messenger jalan, browsing cepat, bisa register sampai 10 alamat email. Busyet begitu salah satu alamat email yang saya khususkan untuk milis diregisterkan ke blackberry service langsung deh inbox Curve saya dipenuhi oleh ratusan emailL.

Yang bikin saya puas, selain push emailnya, kita bisa mengunduh file lampiran yang disertakan dalam email sekaligus melakukan beberapa koreksi terhadapnya, efektif!, fitur fun yang cukup cerdas lagi yang menurut saya sangat berguna adalah fitur silent yang otomatis dijalankan pada saat handset masuk kedalam leather casenya.

Batere irit, cukup bermanfaat dengan aktivitas penggunaan handheld saya yang cenderung ‘diluar kewajaran’.

Yupe, tapi handset ini tidak bertahan lama, secara teman ada yang menawar handset saya dengan harga yang reliable dan kebetulan setelah hampir seminggu bercengkerama dengan Curve saya mulai menemukan sebuah handset blackberry idaman yang wajib saya miliki, yaitu BlackBerry Curve 8320 dengan carrier ROGERS asli Canada warna hitam. Blackberry seri terbaik dari kanada yang banyak dibicarakan dan dicari oleh para blackberryzm.Pertama kali di Indonesia…kebetulan pula ada teman yang berbaik hati membawakan pesanan saya dari Kanada.

 Dan hari ini, Jum’at 06 Februari 2009 jam 09.00, InsyaAllah BlackBerry Curve 8320 Black Rogers saya datang..Welcome..willkommen..binvenutoo                       

 Say Thanks to my titanium BlackBerry Curve 8310..it’s very workfull

 

Penggunaan UMPC, Netbook, Notebook, dan Desktop impian ala Saya..

•February 3, 2009 • Leave a Comment

Begitu banyak perangkat kerja bergerak yang mudah dibawa kemana-mana dengan begitu mudahnya saat ini. Ringan, ringkas, dan tidak tampak menarik perhatian orang lain (baca maling) yang ingin berbuat jahat karena ada niat dan kesempatan. Pun demikian halnya dengan saya, kemudahan dan pergerakan harga perangkat kerja bergerak yang semakin hari semakin murah mendorong saya untuk bisa merealisasikan bayangan mengenai OFFICE MEDIA CENTER yang pas untuk saya. Mungkin sebuah keuntungan bagi saya selama tinggal di Jakarta saya banyak berinteraksi dengan berbagai variasi personal dan mengamati trend yang ada di seputaran meeting point. Banyak yang bekerja dengan perangkat bergerak (baca: bisa laptop maupun handheld) dari notebook berlayar besar hingga handheld yang cukup kecil. Efektifkah itu semua?,lalu apakah perangkat besar yang dahulu sering membantu kita dalam menyelesaikan pekerjaan kita (baca: desktop) akan hilang bersama arus modernisasi dan mobilitas para pekerja?

 Motivasi utama saya saat ini adalah bagaimana bisa mengoptimalkan perangkat bergerak yang saya miliki untuk menunjang pekerjaan saya. Desktop masih merupakan perangkat komputasi yang ideal bagi saya. Bayangkan saja dengan harga yang tidak terlalu mahal saya bisa mendapatkan sebuah komputer lengkap dengan fasilitas yang hampir sama dengan sebuah notebook hi-end yang harganya sampai menembus angka tujuh digitJ, lengkap dengan layar datar resolusi tinggi tentunya.

 Desktop bagi saya bisa digunakan untuk pekerjaan dirumah, dan multi pengguna. Dengan satu buah desktop saya berharap bisa lebih efisien dalam bekerja, mengontrol koneksi internet ke seluruh ruang dengan menjadikan desktop sebagai router wi-fi, memasang media center untuk mengakses hiburan dan tayangan edukasi bagi anak-anak saya, mengawasi pengguanaan internet untuk anak, dan tentu saja dengan sebuah komputer desktop berkecepatan tinggi rasanya cukup gegas dalam mengolah sebuah pekerjaan.Idaman: sebuah desktop branded dibawah 5 juta.

 Notebook selama ini saya gunakan sebagai desktop replacement. Alasan utama memiliki notebook adalah saat bekerja saya harus memiliki sebuah alat komputasi bergerak yang bisa dipakai untuk kerja saat berada di luar kota, karena waktu itu saya lebih banyak ditugaskan keluar kota. Walhasil dalam rangkaian impian OFFICE MEDIA CENTER saya, justru malah notebook yang pertama kali masuk dalam list have already been saya. Sebenarnya dalam memilih notebook saya tidak terlalu tertarik memiliki sebuah notebook dengan spesifikasi terlalu tinggi, harap maklum saya lebih suka menelusuri forum jual bli notebook seken untuk mencari device yang tidak terlalu mahal harganya.

 Saya justru menginginkan sebuah mini notebook alias netbook untuk menunjang aktivitas harian saya.karena aktivitas saya hanya pada kegiatan office ringan saja, hehehe kadang kalau pas lagi banyak pasien di UGD notebook hanya menyala sampai pergantian jadwal jaga berikutnyaJ.

Idaman : Netbook MSI Wind Notebook

 Untuk UMPC, walau saat ini saya merawat sebuah UMPC Sony VAIO VGN UX-180P milik ibu saya,namun tidak sampai membuat saya untuk berkeinginan mencari handset serupa ini. Selain harganya mahal, fiturnya juga kurang efektif untuk saya. Uang 7 digit lebih hanya untuk membeli UMPC?duh, rasanya kok seperti mau menelan garam saja ya…..

Jadi, kesimpulan tulisan saya bisa digambarkan seperti ini:

Saya dan keluarga cukup menggunakan satu buah desktop (branded dunk) untuk aktivitas komputasi utama, dari mulai download hingga menyelesaikan pekerjaan dan sekedar bermain. Untuk di kantor dan aktivitas di luar lainnya saya menginginkan sebuah netbook yang ringkas, kecil, dan tentu saja irit batere dan tidak menarik perhatian orang lain. File pekerjaan bisa saya buat dan edit di desktop rumah sementara untuk minor checking dan change bisa dikerjakan sambil minum kopi atau menunggu pasien datang:D.bawa note book besar..beraaat jack!

 UMPC…untuk sementara belum perlu lahJ, kecuali buat gaya

 

 

Emang dagang itu aneh bagi dokter?

•January 27, 2009 • Leave a Comment

Dokter kok Jualan…..memang aneh ya??

 

Banyak yang heran kalau melihat profesi saya sebagai dokter masih suka nyambi jualan gadget.

Apakah ada yang aneh dan salah dengan hal itu?

Ada yang mengatakan tidak lazim

Ada juga yang dengan sinis berkata kurang kerjaan…

Ada pula yang mengatakan dengan ketus sok kelebihan duit…

Ada pula yang lain dan yang lain….

 

Heran aku…

 

Padahal,

Jiwa utama seorang manusia adalah berniaga..

Berniaga bisa menyeimbangkan dan menjembatani antara emosi dan rasio..

Berniaga dapat memberikan kepuasan bathin dan rasa tanggung jawab,terutama bila modal berasal dari diri pribadi

Berniaga tidak harus selalu dengan modal besar dan kapitasi tinggi

Berniaga bisa di lapangan usaha apapun,

Dengan berniaga kita bisa belajar memanajemen resiko,

 

Kalau saya,

Saya menikmati  berapapun profit baik material maupun immaterial yang saya dapat dari berniaga,

Zero profitpun menyenangkan bagi saya,

Saya menikmati proses tawar menawar harga di internet,

Saya menikmati proses yang bisa saya kerjakan sambil bekerja sebagai seorang dokter,

Saya menikmati desiran adrenalin yang muncul saat menemukan dan menawar harga barang yang sangat bagus sambil bersaing dengan pedagang lain..

 

Saya tidak melanggar sumpah hippokrates,

Saya bekerja sebagai dokter

Saya juga berniaga,

Tapi saya tidak meniagakan profesi saya sebagai dokter

Begitulah…

 

How to select that any menu in the café is delicious for U?,lets try my opinion. It might be useful:D

•January 27, 2009 • Leave a Comment

Enggak di Jogja maupun Jakarta banyak sekali kafe yang berjamuran di sepanjang jalan mulai dari yang berada di sekitar kompleks perkantoran dan pusat perbelanjaan sampai yang ada di pinggir jalan kompleks perumahan, bahkan dikampungpun juga adaJ.

Bukan masalah kafenya yang akan saya bahas tapi mengenai menu yang ada di masing-masing kafe.Oke, mari kita perhatikan bersama bahwa hampir semua kafe menyajikan menu yang serupa. Pertanyaan klasik yang muncul bagi saya cukup sederhana, manakah diantara semua menu tersaji ini yang cukup tasty bagi lidah saya..

Wah kalau harus melakukan survey kecil2an untuk memastikan menu mana yang jadi favorit pengunjung kafe sih bisa-bisa tulisan ini nggak selesai:D. Saya ingat pengalaman saya waktu pertama kali Starbuck kafe dibuka di kota Yogya..my first dan beloved first city..saya sempatkan untuk mampir kesana sekedar mencoba rasa kopinya yang katanya sudah sangat popular.

Saya yakin setiap orang pasti pernah mengalami ‘sindroma bingung memilih menu’ saat pertama kali datang ke rumah makan atau drink stall, termasuk saya..walau sudah berulangkali keluar masuk kafe sekadar untuk berinternet dengan lappy kesayangan tapi tetap saja kalau mencoba menu di kafe baru selalu gagap

Kolega saya banyak yang merekomendasikan menu A, B, C, dan D yang menurut mereka maknyoss.Walah walah,pusing juga kalau harus memandangi dan memilih salah satu menu dari sekian tampilan menu yang ada, selain itu menunya kadang abstrak pula (bayangkan saja harus memilih salah satu menu, mengartikan maksud nama menu, dan GPL tentunya-gak pake lama- mode on, biar gak disangka o’on sama drink beveragernya hehehe).

Resikonya kadang ya dapet drink yang yahud tapi kadang juga dapet drink yang puahitttnya setengah mati (kayak jamu boo!!!),tapi ngelesnya kata orang-orang lain bilang itulah citarasa kopi sejati…pahit dan bikin melek terus.benarkah kopi bikin melek,secara saya tiap jam 21.00 sudah menggelayut mengantuk.

Tapi sayang juga kalau hanya memesan menu minuman yang itu-itu terus tiap kali datang ke kafe ini..,dalam hati saya berpikir sudah jauh-jauh datang dan bayar mahal untuk ukuran dompet saya mosok rasa dan aromanya sudah bisa saya rasakan dari jauh pulaL.

Jadi tips untuk saya pribadi utk menilai jiwa kuliner baik makanan dan minuman adalah dengan cara seperti dibawah ini..(monggo ini hanya ulasan pribadi,jangan dijadikan prosedur tetap ya, secara nilai subyektifitasnya cukup tinggi) :

 

  1. Jangan alergi untuk mencoba menu lain yang terpampang di front desk, tiap minuman punya karakter masing-masing kok.cobalah untuk menemukan spirit dari hal itu (tapi kalau dapet yang bener2 pahit nggak boleh marah ya:D)
  2. Jiwa seni kuliner adalah mencoba hal dan rasa yang baru.pun begitu dengan menu yang ada di front desk,biasanya adalah hasil kreasi dan imajinasi pembuatnya,jadi pasti ada taste-nya lah..cuma sekarang biarkan lidah anda yang bicara enak atau tidak.orang bijak bilang makanan dan minuman itu cm enak dimulut.kalau sudah lewat tenggorokan udah tidak berasa lagiJ
  3. Minumlah sesegera mungkin:D,dan saat haus dahaga membelit tenggorokanmu.satu gelas plastik kopi atau non kopi pasti cukup berkesan:D
  4. Yang lainnya masih dipikirkan dulu

 

Kopi dan non kopi semuanya nikmat…

Hitam pekat atau tidak hitam semuanya memberikan kecerahan dan ketenangan…

Aromanya kuat menghembuskan semerbak citarasa pribadi…

Rasanya liat di lidah, tidak mudah dilupakan…

Ampasnya memberikan jejak yang tegas dan kuat bagi pembentukan karakter…

….

Bikin kopi dulu ah

 

 

Blackberry again and another berry…☺, sebuah ulasan singkat tentang self awareness

•January 22, 2009 • Leave a Comment

Sudah hampir 5 bulan aku tinggal di Jakarta, kota yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya untuk menjadi the next venue for my next job. Dari adaptasi mengenai kemacetan hingga susahnya mencari tukang pompa ban di pinggir jalan aku mulai mencoba untuk menelisik salah satu sisi kehidupan nadi kota Jakarta..tentu saja tidak lepas dari pandangan kacamata awamku untuk menilai kebiasaan para penunjang urat nadi kota Jakarta, yupe orang-orangnya… Sesaat semua tampak sama, dari aktivitas, pakaian, kebiasaan, cara nongkrong, sampai cara merokoknya:D, tapi ada satu yang beda, hampir sebagian besar membawa handset dengan neckstrap berwarna-warni norak.

Kebetulan waktu browsing di kafe disampingku ada seorang customer yang sedang nyeruput kopi campur sambil memainkan handset yang serupa tadi.Kesempatan untuk melirik handsetnya..!!!….sambil diperhatikan lebih jauh dan penasaran akan wujud asli dari handset warna warni yang dipegang ternyata aku tidak merasa asing dengan logo yang melekat di handset itu, that’s RIM (Research In Motion) Canada Product a.k.a Blackberry!.Produk lama yang pada promo perdananya waktu itu kurang berhasil memikat pasar apalagi memikat user untuk berpaling dari handset yang jauh lebih popular waktu itu.

Bukan Blackberrynya yang menarik perhatianku saat itu, tapi sejak kapan booming Blackberry begitu membius bagaikan virus akut di Jakarta, dan mungkin kota besar lain di Indonesia( iya nggak sih?)..ada yang punya alasannya? Luar biasa penetrasi dari handset yang satu ini. Dalam waktu yang tidak terlalu lama menurut pengamatan langsung saya..hee jangan samakan dengan lembaga survey terakreditasi ya..secara aku cuma mengamati orang yang lewat didepanku sewaktu sedang jalan-jalan. Dimana-mana blackberry dijumpai, semua seri blackberry bermunculan, termasuk seri lama yang mungkin sudah discontinued dan out of date pun diburu..blackberryzm (sebutan untuk para pengguna blackberry) begitu kuat mengakar. Yang aku pikirkan sejak kapan orang-orang mulai menyukai qwerty keyboard phone ya…,dan apakah semua fitur di blackberry bisa dimaksimalkan. Hmm kalau hanya untuk kepentingan fashion rasanya ini handset terlalu jauh dari genggaman deh..too expensive coy!

Penasaran akan handsetnya, aku menelusuri lebih lanjut fitur-fiturnya via diskusi forum. Suatu ketika ada kesempatan untuk mencoba menggunakan Blackberry Bold punya teman (blackberry sek paling luarang dhewe)..,sambil sedikit takjub tak percaya memandangi handset kecil tidak mungil dan agak gendut ini harganya lebih mahal dari notebookku..ampuun. Kesan pertama handheld ini cukup elegan dan menarik, warna hitamnya yang dibalut silicon case warna hitam semakin mempertegas karakteristiknya..duh jadi pengen..hehehe sabar-sabar,singkirkan dulu nafsu yang terbentang didepan mata,ayo berpikir rasional. Qwerty keyboardnya nyaman dan empuk, layar cukup memikat..ringtone..biasa aja,aku lebih ingin untuk segera mencoba fitur utama blackberry: push email. Sebagai pecinta gadget, handset priority mode-ku mengatakan aku tidak terlalu memerlukan handset ini.., Why, let we see selection summary of my self awareness using this one :

1. Terlalu Mahal (untuk saya), dari sisi handset dan biaya berlangganan fitur blackberry servicenya. Terutama untuk menarik email real-time, Chatting, dan BB service lainnya. My Self awareness is :D i notebook dan di komputer rumah sudah tersedia internet unlimited yang senantiasa menemani dalam berselancar di dunia maya termasuk checking email. My Trusty Eten Glofiish M700 dan PalmOne Treo 680 masih mampu melayani permintaan komunikasi dataku yang terhitung cukup ringan jika hanya aku gunakan untuk Chatting. Saya belum memerlukan pembalasan respon email real time.perlu push email?,gampang,tinggal instalasikan software push email..banyak kok yang gratis..hindari pembajakan dong☺

2. Belum punya komunitas Blackberry (hiks..hiks). hehehe bisa dihitung berapa banyak rekan sekerjaku di klinik dan rumah sakit yang menggunakan handset ini. My self awareness is : komunitas membentuk ciri nonspesifik individu, kenapa non spesifik yang kutekankan karena hal ini merupakan karakter tambahan seseorang yang dibangun dari lingkungan sekelilingnya.dari sisi social, aku tidak perlu menggunakan blackberry hanya untuk menarik perhatian rekan sekerjaku dan untuk semakin mentahbiskan diriku sebagai gadget mania (hayah…:P). sedih deh, mosok hanya karena bawa handset yang sedikit nyleneh alias uncommon langsung dicap sebagai gadget freak.

3. Pekerjaan utamaku saat ini. Sebagai dokter dan praktisi pelayanan kesehatan waktu jaga klinik yang kuperlukan hanyalah sebuah handset yang batrenya tahan lama, gampang untuk nulis pesan, mudah untuk menghubungi siapapun kalau ada kasus kedaruratan medik, dan bisa digunakan untuk main game ringan dan chatting pas lagi bosen. Kalau baru niat belajar ya baca medical e-book, dan (weks) textbook. Side activity-ku as a junior medical information system officer belum memerlukan push email untuk merespon input dari atasan.

4. Takut menjadi antisosial hehehe. Ini yang paling aku takutkan. Secara jam terbangku di depan notebook cukup tinggi walau hanya untuk menulis dan berinternet, kekhawatiran apabila euphoria blackberry nantinya menyita seluruh waktuku even hanya untuk chatting dan browsing in everytime and place cukup menjadi pertimbangan utama yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

5. Motivasi. Belum termotivasi beli handset baru lagi.orientasi utama saat ini menabung,hehehe

THAT’S ALL REASONS,

Bingung..,Aneh..,Heran,..atau Bahkan Marah…?-No offence Please,

Ini hanya pendapat pribadi, hasil dari self awareness dan suara hati yang jujur saat mencoba handset blackberry bold 9000 di lobi lantai 9 sebuah hotel di bilangan Slipi Jakarta Barat. Tulisan ini hanya merupakan ungkapan pribadi penulis tentang perlunya kita melakukan sikap peduli diri dalam mensikapi semua gelombang yang muncul. Tentang perlunya kita melakukan tolok ukur diri dalam memberikan penghargaan terhadap diri.

Sambil berpikir..sebenarnya asik juga kalau punya Blackberry ….

Hehehe Dasar gadget prik..pinginan:D

Mungkin suatu saat nanti perlu..tapi tidak saat ini…

Kenapa ya namanya Blackberry bukan blueberry atau berry yang lain…

entahlah..

antara kuliner dan 100 tahun kebangkitan nasional

•June 5, 2008 • Leave a Comment

Entah sejak berapa lama gw sering mengamati berbagai perilaku masyarakat yang cenderung banyak mengalami transformasi budaya hingga kadang lupa pada akar budaya aslinya termasuk dalam hal memilih makanan. Sejak Om Bondan dengan logo Mak Nyussnya muncul di sebuah stasiun televisi swasta ada satu kebiasaan baru masyarakat untuk kembali mencari hal-hal unik yang menjadi ciri khas dari masing-masing tempat. Sedikit banyak teman-teman gw cerita bahwa walau lama tinggal di perantauan, lidah mereka tetap mencirikan lidah rasa daerah asal mereka. Ada temen gw yang hobi makan makanan dengan taburan merica tebal, ditaburi rempah-rempah harum  dan kuah yang memerah ala sumatera dan sangat intoleransi dengan masakan kota asal gw yang cenderung manis. Hal yang membuat gw dan teman gw tersebut akhirnya harus rela untuk berjalan berjam-jam menyusuri jalan protokol utama di kota gw mencari beberapa warung makan dengan selera yang diinginkan oleh teman gw tersebut. Secara gw nemu beberapa warung makan gaya sumatera yang menurut gw udah sangat nendang cita rasa sumateranya, tapi hanya dengan satu kata dia yang bilang : “terlalu manis”…. Bikin gw jiper jg. Begitu tajamnya lidah orang yang dibesarkan dengan kuliner masakan ala sumatera, walau lama tinggal dan merantau di tanah jawa untuk sekolah sensitivitas lidahnya tidak berkurang. Padahal berapa kali sudah gw coba cekokin dengan makanan khas kota gw yang udah jadi icon kota gw. Psst jgn bilang-bilang kalo gw seringkali mengalami gastroenteritis akut et kausa merica dan makanan kuah merah tiap kali gw datang ke rumah makan seperti itu, jadi indikator gastroenteritis gw ternyata bukan merupakan sebuah indikator yang cukup valid untuk menilai keaslian sebuah cita rasa makanan. Phew..mengerikan juga, gw tidak tau gimana jadinya bentuk gaster (baca:lambung) gw kalo memakan makanan yang  bener-bener aslinya..semoga tidak sampai harus menjalani endoskopi untuk menilai bagaimana perubahan dinding lambung gw. Secara akhirnya gw dan temen gw menemukan sebuah rumah makan dengan arsitektur sederhana namun berhasil mendapatkan stempel asli dan top markotop dari temen gw, dan ternyata benar hipotesa gw bahwa gw harus mengalami gastroenteritis akut yang lebih berat lagi dan memaksa gw untuk mengambil obat yang jauh lebih poten lagi di apotek tempat gw biasa praktek  supaya gw tetep bisa survive dalam petualangan kuliner bersama temen gw ini.

Begitu hebatnya kemampuan sebuah media dalam membentuk opini masyarakat secara tidak langsung juga turut mengubah perilaku masyarakat dalam menerjemahkan arti kuliner dan makanan yang top markotop itu seperti apa. Memang tidak ada bentuk anatomi kuliner yang tepat untuk menggambarkan bentuk kuliner yang digemari untuk setiap orang, namun setidaknya perilaku masyakarat yang terkadang gw amati mulai bergeser kearah proses yang lebih singkat, instant, dan kurang essensial yang pada akhirnya menjadi sebuah gaya hidup dengan munculnya berbagai rumah makan dengan gaya bervariasi mulai dari oriental klasik hingga modern yang banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk melepas rasa laparnya, begitu hidup dan sangat digemari, hal yang memang tidak bisa kita hindari. Pikiran saya kemudian melayang kembali membayangkan sebuah kafe ceret telu jogja (alias warung angkringan) yang tidak pernah kalah ditelan deras dan kejamnya inflasi dan resesi global namun dengan kesederhanaan konsepnya mampu menjadi ciri khas dan memiliki penggemar fanatik-hal yang seharusnya kita jaga bersama supaya tidak hilang di kemudian hari.

Om Bondan dalam suatu lawatannya ke kota Solo yang merupakan salah satu gudang wisata kuliner di Jawa sempat mengeluhkan susahnya mencari beberapa item makanan kecil yang dulu biasa dia jumpai di salah satu ujung pasar. Kemanakah gerangan item makanan kecil tersebut menghilang, apakah bermetastasis jauh hingga ke luar pasar ataukah memang mulai menghilang satu demi satu?,apakah nantinya identitas kita sebagai bangsa yang memiliki beragam keunikan cita ras makanan akan tergerus oleh derasnya arus waralaba makanan modern dan asing?apakah nantinya anak cucu kita tidak bisa lagi melihat dan mengenal makanan tradisional baik makanan ringan untuk kudapan hingga sajian berat untuk makan besar di meja makan bersama keluarga dan mulai tergantikan dengan berbagai makanan modern yang memang tampak jauh lebih menarik, bergengsi dan lebih bernilai komunitas.

Gw bukannya kontra dengan berbagai liberalisasi makanan dan kuliner asing yang masuk ke negara kita, secara masuknya berbagai menu baru bisa memperkaya pengalaman lidah gw dalam beradaptasi dengan (makanan) negara lain, tapi gw tetap cinta makanan asli Indonesia yang juga belum sempat gw cicipin semua sampai saat ini, dan gw pengin semua seni kuliner Indonesia bisa tetap eksis dan dinikmati sampai nanti. Gw bangga jika melihat banyaknya warung-warung makan asli Indonesia yang tersebar di seluruh daerah dan bahkan ada beberapa yang bisa dijumpai di luar negeri. Sehingga generasi setelah gw dan seterusnya (ealah..emang gw generasi keberapa yak…) bisa dan tetap bangga dengan produk bangsa sendiri. Beberapa tempat makan klasik di kota gw sudah pernah gw coba bersama dengan istri dang w kasih stempel mantapp!!! Ala gw dan istri, gw sama sekali gak bosen-bosennya tiap akhir pekan muter kota asal gw untuk mencari tempat kuliner baru.

Memang ide asli Om Bondan untuk mempopulerkan wisata kuliner ini bisa dibilang jempolan, kalo cm two thumb aja gw rasa tidak cukup sebagai bentuk apresiasi orisinalitas ide beliau. Walau sejak kecil gw sering banget baca komik-komik yang bertemakan memasak seperti born to cook (yang akhirnya difilmkan dan diputar di salah satu televisi swasta), gw sama sekali belum terpikir untuk suatu saat mengemas sebuah konsep acara makan-makan seperti milik om Bondan ini. Bersama pesan yang disampaikan oleh Om Bondan dalam tiap episode acaranya selalu menyambung dalam benak gw bahwa kalau bukan kita yang menjaga harta kuliner kita, siapa lagi?

 

100 tahun kebangkitan bangsa bisa kita interpretasikan dalam berbagai hal, mulai dari energi alternative sampai kampanye global warming. Kalo gw dengan cara mencari terus kuliner Indonesia yang masih tersembunyi di berbagai sudut pada saat gw senggang dan ada suasana hati untuk berjalan-jalan, secara gw memajukan per-kuliner-an Indonesia adalah bentuk dari 100 tahun kebangkitan bangsa, kebangkitan kuliner Indonesia untuk melawan liberalisasi kuliner asing yang menyerbu bangsa kita. Dengan makan sajian Indonesia kita memperdalam identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena kandungan lokal perut kita penuh dengan bahan baku muatan lokal J, jadi tidak Cuma mata pelajaran aja yang punya satuan pelajaran muatan lokal, dunia kuliner juga punya hehehe…

 

..::renungan disaat menunggu pesanan Mie Nyemek pak Rebo deket THR, salah satu cagar kuliner asli yang harus dipertahankan di tengah maraknya liberalisasi kuliner::..

berapa kali ganti ponsel vs berapa kali ganti laptop vs realita aktivitas manusia

•May 29, 2008 • Leave a Comment

Sudah jadi hal yang jamak dilihat jika setiap orang selalu menenteng ponselnya masing-masing saat mereka berada dimanapun, dari mulai bangun sampai tidur lagi. barang yang tidak bisa dibilang murah ini selalu ada disamping temans dan bahkan mungkin tanpa kita sadari sudah terjalin suatu jalinan kasih antara telapak tangan kita dengan ponsel kita (belum diteliti kadar valitidas jalinan kasihnya nih..ada mahasiswaku yang mau meneliti tidak ya:D), atau bahkan uji bakteri dan virus yang terdapat di sebuah ponsel hehehe, siapa tau mahasiswaku ada yang berkeinginan meneliti hal ini,untuk misalnya memetakan strain virus pada masing-masing tombol keypad:).  Memang masih agak susah dicerna mengapa benda yang ukurannya lebih kecil dari sebuah komputer bahkan TV portable sekalipun jauh lbh persuasive dan diminati untuk dimiliki dan terkadang berubah menjadi perilaku massif untuk bergonta-ganti ponsel, secara sebenarnya fungsi dasar ponsel sejak dahulu hingga saat ini tidak pernah berubah..just for call..hanya itu!.

Dalam hal memilih sebuah ponsel genggam tentu saja ada hal mendasar yang diinginkan oleh para penggunanya, termasuk gw, namun yang membikin gw heran adalah dengan perkembangan fitur ponsel yang tidak terlalu signifikan seperti halnya fitur sebuah komputer, mungkin buat sebagian orang berganti-ganti notebook adalah hal yang masih amat jarang dijumpai, gw yakin banyak orang yang akan geleng-geleng kepala kalau gw Tanya sudah berapa kali ganti lappy,.

Berapa kali ganti ponsel vs berapa kali ganti lappy seringkali mengganjal dalam pikiran gw. Gw pgn banget bikin survey singkat tentang hal ini. Gw kadang sampe terheran-heran kalo melihat dalam sebuah forum internet ada temans yang  mempunyai riwayat turnover penggunaan ponsel begitu panjang, bahkan dalam waktu singkat kurang dari 3 tahun. Luar biasa, bahkan mungkin selisih depresiasi harga yang diperoleh dari menukarkan satu ponsel ke ponsel mungkin sudah bisa untuk membeli sebuah laptop baru.luar biasa..!!,

Daftar ponsel gw memang lumayan agak panjang, hehehe lumayan untung juga sih sering gonta-ganti ponsel minimal secara model mata gw tidak alergi dengan model ponsel yang udah mulai bervariasi (baca: tidak kaku jika mencoba ponsel merk lain). Dari ponsel monokrom sampai yang berlayar TFT 16 juta warna pernah gw coba, secara gw memang tidak pernah punya ambisi untuk mencoba semua merk ponsel dan kemudian memanjangkan list ponsel gw. Secara gw memang jarang beli ponsel, banyak ponsel yang mampir ke tangan gw adalah ponsel lungsuran dari ortu dan sodara-sodara gw (kadang sedikit dipaksa harus menerima..kalo ndak bukan anak yang berbakti :) ) dan kadang ponsel2 tersebut tidak lama di tangan gw karena langsung gw turunkan lagi ke kerabat sodara gw..hehehe jadi jangan berharap ada hubungan kasih sayang yang terselubung apalagi selingkuh antara telapak tangan kanan gw dengan ponsel yang pernah gw miliki.

Gw merasa teknologi ponsel telah mampu masuk ke dalam aspek persuasif para konsumen. Tidak sedikit orang yang sangat tertarik untuk melihat ponsel di toko walau hanya untuk sekedar me-refresh keinginan-yang terkadang melampaui daya minat untuk mencari buku.Sebagai benda kecil portable yang memiliki konsep fungsi utama untuk menelepon, berkirim pesan singkat dari yang berbasis teks hingga multimedia, hingga fasilitas nirkabel WiFi yang mampu digunakan untuk berkomunikasi di dunia internet. Dengan fitur yang telah begitu lengkap ternyata tidak lantas membuat kita untuk langsung mengucapkan ikrar “setia semati hingga matot (alias mati total hehehe…) untuk selalu bermonogami dengan ponsel yang kita miliki.., gw yakin tidak perlu dilakukan survey massal untuk membuktikan hipotesa gw ini hehehe

Anyway, gw dari dulu tertarik dengan bagaimana konsep sebuah ponsel yang mampu membius sebagian besar konsumen (baca: kita) hingga mampu duduk berjam-jam disatu tempat sambil memandang layar ponsel dengan ukuran tampilan tidak lebih dari ukuran cermin tempat bedak, mengutak-atik suatu menu dalam ponsel yang bahkan cenderung kita ulang-ulang aktivitasnya (ini termasuk modifikasi aspek obsesif baru nih..).hal yang bahkan mampu mengalahkan aktivitas baca singkat yang dulu kerap dilakukan oleh rekan-rekan pendahulu kita saat mereka sedang menunggu suatu hal. Gw pengin bisa bikin konsep easy reading baru dengan dasar easy reading—easy understanding.berdasar falsafah ponselJ (duh..gw makin ngelantur nih awal pembicaraannya kan cm dalam koridor ponsel vs lappie)..

Alhasil..gw cm bisa mengikuti arus perkembangan dan metastasisnya sambil berharap tetap kukuh dengan prinsip yang gw pegang supaya tidak terseret dalam rimba per-ponselan bin per-laptop-an dan per-elektronik-an lain yang tidak terlalu tinggi urgensinya. Secara waktu liat pameran kompie tempo hari gw sempat tergoda ingin berselingkuh dari lappy kesayangan gw utk berpaling pada si lappie kekar dengan berat lebih dari 2,5kg dan ponsel cantik berwarna mocca yang sungguh aduhai dilihat…syukurlah..gw masih diingatkan oleh banyak orang..(hayah..padahal beli saja tidak mampu).

Rekans semua mungkin memiliki ideologi yang berbeda-beda, hanya saja yang bisa kita garis bawahi bersama adalah semua hal selalu akan lebih baik jika kita nilai dari aspek fungsi dan tepat daya guna. Dalam suasana resesi global dimana di berbagai sektor mengalami kelesuan, sektor riil tidak mampu bergerak ke depan secara signifikan yang ujung-ujungnya membikin beban masyarakat semakin berat, alangkah baiknya jika kita lebih bijaksana dalam menginventarisasi barang milik kita, agar tidak membuat sebuah edukasi buruk ke masyarakat. “Hari gene masih punya hobi boros dan konsumtif…No Way…..!!!”