Everything is only things until we read and comment it

..::a simple reflection of us to face the real world::.

saat inkonsistensi terasa sangat menyebalkan..

leave a comment »

Kita hidup di sebuah tatanan kehidupan yang penuh dengan toleransi dan kebersamaan. Dengan adanya toleransi dan kebersamaan itu benturan, friksi, dan konflik yang muncul dalam kehidupan sehari-hari tidak berkembang menjadi  sebuah pertikaian maupun perpecahan besar yang berujung pada disabilitas nasional (hehe). Toleransi dan kebersamaan itu sering bermutasi dan tampil dalam wujud lain yang lebih umum kita nikmati bernama ‘kompromi’. Kompromi merupakan suatu permutasi hasil yang berorientasi pada kepuasaan kedua belah pihak. Namun tidak selamanya hasil kompromi atau ‘kompromisasi’ itu mempunyai perimbangan yang adil untuk kedua belah pihak yang bersitegang atau sedang mengalami gesekan, apalagi jika melihat hal yang akan dikompromikan itu memang merupakan sebuah pola yang sangat susah diubah karena jeratan kultur yang sudah demikian mengakar kuat hingga masyarakat lebih memilih jalur kompromi yang tampak dalam bentuk budaya kompromistis daripada melawan suatu hal yang hasilnya sudah bisa dilihat, yakni dengan hasil  perlawanan tanpa perubahan. Inkonsistensi merupakan salah satu akar dari permasalahan timbulnya budaya kompromi yang kurang sehat di masyarakat. Diantaranya adalah kompromi mengenai pelayanan publik yang kurang maksimal. Sayangnya masih banyak yang mengartikan budaya kompromistis ini sebagai bentuk dari ‘win-win solution’.

Tulisan diatas sebenarnya hanya pengantar saja tentang hal yang belum lama ini saya alami. sebagai seorang plegmatis yang juga melankolis sempurna, saya sudah terbiasa mengkombinasikan kesempurnaan pada suatu hal sampai ke hal yang membutuhkan kompromi. Dalam pandangan saya, daripada memaksakan suatu hal yang belum tentu memberikan hasil maksimal lebih baik diam dan memberikan sugesti positif pada diri sendiri bahwa memang mungkin belum saatnya kita mendapatkan hasil maksimal menurut kriteria kita. Namun jika membicarakan kelemahan layanan publik, kadang satu titik hal yang menjengkelkan bisa menjadi aktivator buruk bagi nilai kompromi yang sudah saya lakukan. Sudah banyak kompromi terhadap layanan publik (dalam hal ini jasa transportasi publik) dalam pandangan saya, misalnya mikrolet yang suka menyetel musik dalam kabin cukup keras, sopir angkutan umum yang tidak menghargai penumpang, transmetro busway yang tidak tepat waktu dan pakai aksi berhenti sejenak, sebagian oknum taksi yang tidak mau memakai argo atau malah ber argo kuda, sampai layanan taksi gelap di bandara yang tidak pernah belajar bagaimana cara melayani calon penumpang dengan baik. Tulisan protes dan barisan kalimat berisi masukan sudah sering saya kirimkan ke surat kabar, kotak saran, sampai langsung saya sampaikan ke pengemudi angkutan, namun hasilnya nihil..mereka katakan hanya menjalankan tugas dengan kondisi yang sudah seperti ini………YAP, lagi-lagi kita terjebak dalam jeratan kultur, dan saya cukup sabar serta kompromis.

Sampai suatu hari nilai ambang kompromi saya hampir mencapai batas dan meledak hanya karena hal yang sebenarnya cukup sederhana. Waktu itu saya sedang menunggu panggilan boarding pesawat menuju Jakarta. Karena hanya membawa sedikit barang saya putuskan untuk membawa masuk barang bawaan saya saya ke dalam bagasi kabin pesawat. Setelah melihat ke display jadwal keberangkatan saya bergegas duduk di dekat gate yang menjadi pintu masuk penerbangan saya, alasannya cukup sederhana, dengan duduk di kursi dekat gate saya punya peluang untuk masuk pesawat lebih dahulu. itu akan mempermudah saya untuk memilih dan memasukkan bagasi saya, dan sedikit bangga karena menjadi salah satu orang pertama yang diberi ucapan selamat datang di kabin oleh pramugari ( hehehe).

Ok, setelah duduk di ruang tunggu dan pasang PW (posisi wuenakk), saya keluarkan beberapa senjata saya untuk mengusir bosan sambil menunggu waktu. Kuketukkan jemariku di atas keyboard laptop gembrot kesayanganku untuk membuka laman website di  internet dengan alunan musik jazz dalam stereo headset, sambil sesekali ponsel pintarku berteriak tanda ada email dan pesan singkat masuk. Haha, ini kemenangan dan orgasme atas kepuasan saya dalam menikmati situasi. Sampai akhirnya  terdengar panggilan boarding dialunkan oleh petugas, hanya herannya kenapa semua penumpang bergegas menuju ke gate di sebelah, ???….sambil membuka stereo headset, pandangan saya langsung menuju ke display departure schedule dengan rasa tidak percaya dan mau marah karena gate untuk menuju pesawat saya telah diganti ke gate sebelah………………

Sontoloyo batin saya, sambil bergegas mematikan dan menutup laptop saya segera mengangkut barang bawaan saya dan berlari menuju ke gate sebelah dan bisa ditebak, saya ikut antrian di baris belakang F@#$%*^ S**T. Baru deh terasa barang bawaan saya meski Cuma sedikit tapi terasa berat, 1 travel bag ukuran 17, tas ransel besar berisi laptop dan bahan kerja, serta satu kotak sedang oleh-oleh yang jika dimasukkan dalam bagasi pesawat secara sembarangan bisa hancur karena isinya kerupuk dan keripik. Rasanya kompromi saya sudah hilang dan siap saya ledakkan ke siapa saja yang berhubungan dengan penentuan gate dan penunjangnya. Yah, untungnya terucap istighfar yang panjang dan kemarahan ini perlahan mereda, hanya jengkelnya yang tak kunjung hilangL.

Ini baru di bandara yang ‘ngakunya’ internasional dengan gate yang berdekatan, coba bayangkan jika hal itu terjadi di sebuah bandar udara internasional dengan puluhan gate dan jarak yang lumayan jauh, bagasi yang lumayan banyak dan sedikit mengalami distorsi budaya dan bahasa masalah yang sederhana seperti itu bisa menjadi hal yang luar biasa.

Kalau untuk yang satu ini saya sudah tidak bisa kompromi lagi.

Written by dr. Gama Diswita

July 4, 2010 at 20:04

Posted in Uncategorized

baru saja hampir terjatuh karena belitan kabel charger:(

with 2 comments

Sekali lagi muncul unek-unek…

Kapan ya ada wireless electricity charger seperti halnya Wi-Fi, biar kalau pas baru nongkrong di suatu tempat sambil internetan di laptop kalau pas batre menjelang habis tidak perlu mengulur kabel chager dan mencari atau bahkan berebut stopkontak dengan pengguna yang lain, namun cukup dengan menyalakan tombol wireless electricity charger di laptop seperti halnya menyalakan tombol Wi-Fi dan kemudian..tadaaaaaaaaaaaaa batre laptop pun terisi kembali…….

Bermimpi boleh dong

Written by dr. Gama Diswita

May 12, 2010 at 16:50

From BB curve 8310 to 8320

leave a comment »

Akhirnya punya juga sebuah handset Blackberry Curve 8310 Titanium dengan carrier Vodafone. Setelah membuat tulisan pro-cons tentang BB akhirnya saya malah dihadapkan dengan kondisi pekerjaan yang mengharuskan saya untuk bisa mengakses email secara real time dan tuntutan respon akan jawaban email menyangkut pekerjaan yang cukup cepat. Nasib, kualat kali bikin ulasan kemarin.untung saya tidak bikin ulasan pro cons tentang volkwagen caravelle:D,bisa-bisa kualat trus dipaksa beli caravelle:D hue hue

Yap!,pertama kali yang muncul dikepala saya adalah pusing membayangkan berapa harga sebuah handset BlackBerry, mahal!.tapi tunggu dulu, mahal tidaknya sebuah barang itu relatif dibedakan dari tingkat manfaat yang didapatkan. Sesuai hukum ekonomi ala saya, minat utama saya adalah mencari handset yang tidak terlalu mahal tapi bisa dioprek sepuasnya:D

Setelah menimang-nimang isi dompet dan meminta masukan dari para dedengkot BlackBerry akhirnya terpilihlah handheld BlackBerry Curve 8310 titanium versi limited dengan carrier Vodafone untuk menemani aktivitas saya. Thanks buat bro di Surabaya yang telah membantu memilihkan handset yang tepat untuk saya. Tepat, Murah, dan dibawah harga pasaran..serta resmi dengan segel ditjen postel untuk menjamin kenyamanan berakses menggunakan blackberry service.

Kesan pertama menggunakan handheld is,amazing sekaligus bingung:D. That’s very rare machine with specific interface, unlike windows mobile. Banyak item dan icon baru yang sama sekali berbeda dengan device yang lain. Sampai harus dipandu via telpon untuk mengeset blackberry servicenya..then it has been done..push email aktif, bb messenger jalan, browsing cepat, bisa register sampai 10 alamat email. Busyet begitu salah satu alamat email yang saya khususkan untuk milis diregisterkan ke blackberry service langsung deh inbox Curve saya dipenuhi oleh ratusan emailL.

Yang bikin saya puas, selain push emailnya, kita bisa mengunduh file lampiran yang disertakan dalam email sekaligus melakukan beberapa koreksi terhadapnya, efektif!, fitur fun yang cukup cerdas lagi yang menurut saya sangat berguna adalah fitur silent yang otomatis dijalankan pada saat handset masuk kedalam leather casenya.

Batere irit, cukup bermanfaat dengan aktivitas penggunaan handheld saya yang cenderung ‘diluar kewajaran’.

Yupe, tapi handset ini tidak bertahan lama, secara teman ada yang menawar handset saya dengan harga yang reliable dan kebetulan setelah hampir seminggu bercengkerama dengan Curve saya mulai menemukan sebuah handset blackberry idaman yang wajib saya miliki, yaitu BlackBerry Curve 8320 dengan carrier ROGERS asli Canada warna hitam. Blackberry seri terbaik dari kanada yang banyak dibicarakan dan dicari oleh para blackberryzm.Pertama kali di Indonesia…kebetulan pula ada teman yang berbaik hati membawakan pesanan saya dari Kanada.

Dan hari ini, Jum’at 06 Februari 2009 jam 09.00, InsyaAllah BlackBerry Curve 8320 Black Rogers saya datang..Welcome..willkommen..benvenuto

Say Thanks to my titanium BlackBerry Curve 8310..it’s very workfull

Gak

Written by dr. Gama Diswita

May 12, 2010 at 16:43

Blackberry, jawaban atas keinginan mobile internet 6 tahun yang lalu….

leave a comment »

Kalau blog saya lebih banyak berisi tentang mobile phone dan sejenisnya tentu saja wajar, karena sebagian minat saya ada di sini dan sejak awal mula blog ini juga merupakan ruang imaji saya dalam menuangkan berbagai hal yang ada di kepala saya. Kalau lebih banyak tentang gadget dan yang sejenisnya tentu saja itu bukan sesuatu hal yang harus dipermasalahkan bukan.

Kalau melihat pertumbuhan penggunaan mobile internet yang begitu luar biasanya  terutama sejak berbagai situs jejaring sosial dan aplikasi instant messaging mulai diterima oleh masyarakat luas, my mind spins quickly to 6 years ago, yap, tahun 2004 adalah waktu dimana saya mengenal handset multimedia pertama saya yaitu Nokia 3660. Berbekal kartu pascabayar Matrix dari Indosat yang waktu itu mengeluarkan promo akses internet unlimited ‘hanya’ Rp. 25.000,-/ bulan itulah akhirnya saya mulai ketagihan dengan apa yang disebut mobile internet.  Mulai dari pull mail, internet dari handset hingga chatting menggunakan Agile Messenger yang waktu itu masih gratis. Waktu itu rekan-rekan yang sedang online bersama saya sering tidak percaya kalau saya bilang sedang online di dalam bus kota atau di kantin kampus, hehehe..wajar saja kan, di jaman itu notebook masih merupakan hal yang masih jarang dijumpai di kampus..terlebih untuk mengakses internet sebagian besar masih mengandalkan warnet yang ada di kampus karena murah dan masih bersedia ngantri kalau baru dalam keadaan kepepet.

Baru kali itu saya merasakan kehidupan dan tren kebiasaan internet saya berubah. Saya lebih banyak menggunakan Nokia 3660 saya untuk chatting, sekedar buka internet dari browser bawaan handset atau dengan menggunakan opera mini yang waktu itu masih belum digratiskan penggunaannya, ngecek status friendsterJ, cek email, mulai lebih suka berkirim email untuk berkorespondensi dengan dosen dan rekans, serta jika perlu berinternet dengan PC tinggal memfungsikan handset sebagai modem dengan bantuan infrared device..duh gaya bener waktu itu.

Dari euforia dan kenikmatan menggunakan fasilitas tadi akhirnya memunculkan berbagai tuntutan baru yang mungkin belum bisa dipenuhi oleh handset yang saya miliki waktu itu, diantaranya konsumsi batre handset yang cenderung lebih boros, keinginan push mail layaknya sms, paket internet unlimited tanpa batas tanpa kuotaJ, dan layanan chatting yang lebih spesifik serta bisa bertukar file secara real-time

Ternyata bagi saya harapan itu pelan-pelan terjawab dimulai pada tahun 2008 dimana saya mulai menggunakan paket internet unlimited dari salah satu operator yang kemudian lebih banyak saya pergunakan di handset saya waktu itu yakni O2 XDA II. Namun, satu hal yang tidak pernah bisa dipenuhi dari sebuah PDAphone seperti XDA II adalah batre yang tetap saja boros, bahkan lebih boros dari Nokia 3660 saya dulu. Dan harapan itu sedikit banyak terakomodasi ketika [karena tuntutan pekerjaan saya waktu itu] akhirnya saya mengenal Handset Blackberry Huron 8820 saya.

Yap, Blackberry ternyata adalah jawaban atas semua keinginan dan harapan saya akan mobile internet 6 tahun yang lalu. Setidaknya sampai saat ini semua fungsi itu masih sanggup dikerjakan oleh handset blackberry saya…

Padahal kalau tidak salah, sejak jaman saya kuliah dulu pun sudah ada blackberry ya…lalu kenapa jawaban itu baru terakomodir sekarang ya

Written by dr. Gama Diswita

May 12, 2010 at 16:37

Seandainya ada wireless electricity charger

with one comment

sebuah impian yang semoga bisa terwujud,

seperti halnya ketika membayangkan ponsel layar berwarna saat ponsel monokrom membanjiri pasar,

seperti halnya membayangkan video call terealisasi pada saat nonton film star trek,

seperti halnya membayangkan internet broadband bisa dinikmati oleh siapa saja dan unduh file berukuran besar dalam hitungan menit, ketika jaman internet masih leased line

seperti halnya belanja online dan bertransaksi online,

nah, apakah suatu saat nanti bisa terealisasi sebuah wireless charger ponsel, notebook, dan electronic equipment lain yang bekerja dengan konsep seperti Wi-Fi…,biar tampak rapi..

gemes juga lihat kabel adaptor  notebook dan ponsel yang bertebaran dimana-mana dan hampir membuat saya terpelanting karena tersangkut kabel.

kapan ya bisa terwujud:)

Written by dr. Gama Diswita

October 11, 2009 at 11:22

Posted in Uncategorized

Turnovers penggunaan notebook dan ponsel saya kok tinggi ya..budaya konsumerismekah??..tunggu dulu,baca ulasan saya berikut ini

leave a comment »

Dalam satu tahun terakhir ini tercatat turnovers penggunaan notebook dan ponsel saya sedikit meningkat. Tercatat 8 kali saya berganti notebook dan 10 kali berganti ponsel. Memang bukan jenis notebook dan ponsel hi-end yang say a beli, tapi frekuensi gonta-gantinya itulah yang sampai membuat istri saya geleng-geleng kepala. Perlu digaris bawahi bahwa saya adalah orang yang suka memaksimalkan inventaris barang yang saya miliki. Kalau bukan karena alasan rusak atau fungsionalnya yang sudah mulai terbatas pasti barang tersebut akan saya gunakan terus.

Dari Compaq 3352TU à Acer 4520 à Lenovo ThinkPad R60 à Acer 4520 (lagi) à IBM ThinkPad X40 à Fujitsu P7010 à Acer 2420 à Netbook OEM (tanpa Merk-hingga saat ini) sempat saya gunakan untuk aktivitas kerja saya sehari-hari. Sebagian besar notebook tersebut ditukar karena dibeli oleh asisten dan pegawai saya di kantor. Tidak tega rasanya mereka selalu menanyakan kapan notebook tersebut mau dijual. Perasaan itulah yang akhirnya membuat saya merelakan setiap laptop yang baru saja saya beli untuk kemudian dibeli oleh mereka. Untungnya ke tujuh notebook yang mereka beli sampai saat ini dalam kondisi baik dan berfungsi secara maksimal..netbook putih seksi yang saya pakai saat ini juga sudah ditaksir oleh rekan satu kantor saya.duh..kalau memang jadi mau dibeli habis ini mau pakai apalagi ya..

Nasib serupa juga terjadi dengan ponsel saya. Banyak ponsel saya yang dibeli (bahkan dibeli dengan paksa) oleh staf saya di rumah sakit, karena alasan ponsel saya sudah banyak saya kustomisasi mulai dari tampilan hingga kinerjanya. Lha yo wajar kanJ, kita oprek ponsel kita supaya kita tidak bosan dan terhindar dari perilaku konsumerisme..

Bagaimana menurut anda, apakah saya termasuk orang yang konsumtif?

Written by dr. Gama Diswita

August 6, 2009 at 07:44

Posted in Uncategorized

ketika setiap detik terasa begitu berharga…

leave a comment »

Saya lupa kapan saya mengalami hal yang akhirnya menjadi judul blog saya kali ini. Sepertinya sudah hampir 3 bulan berlalu. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan menuju ke tikiJNE untuk mengirimkan paket notebook milik kakak saya yang baru saja selesai direparasi. Dengan mengendarai skuter matik Yamaha Mio biru kesayangan yang sudah menemani hampir 3 bulan lamanya juga saya mampir dulu ke Plaza Semanggi karena ingin beli buku dan janji makan siang bersama relasi kerja. Setelah makan siang, perut kenyang, dan bibir manyun karena obrolan tak karuan kesana kemari akhirnya saya hendak melanjutkan perjalanan ke JNE dan kemudian pulang…kerjaan hari ini beres,kapan lagi bisa pulang siang seperti ini hehehe. Tapi ketika hendak menuju ke basement,terlihat dari jendela hujan begitu deras..weks gawat nih..siaga satu rupanya..tidak ada tanda apa-apa kok hujan!!,secara informasi cuaca dari HTC kesayangan saya menunjukkan cuaca Jakarta siang itu hanya berawan tanpa ada indikasi kea rah hujan…ugh..dosa kali ya karena pas makan siang ngobrolin masalah pertanian yang carut marut karena iklim yang tidak bisa ditebak.

Akhirnya balik lagi ke Plaza Semanggi sambil muter-muter menunggu hujan reda. Sebenarnya bisa sih langsung menerobos hujan pakai mantel,Cuma ada notebook milik kakak dan beberapa barang elektronik yang saya taruh di motor,kalau kena air cilaka deh. Sedikit menyesal juga kenapa batere notebook saya juga sudah koit siang itu. Hujan sudah reda, SIP..! saya langsung turun ke basement untuk mengambil motor dan bergegas ke JNE.sepanjang perjalanan menuju ke JNE menjadi saat yang sangat tidak menyenangkan.walau sudah tidak hujan,ternyata di sebagian tempat masih ada sedikit gerimis dan hujan rintik-rintik.pemberhentian lampu merah jadi terasa menyiksa lebih dari saat menahan buang air di perjalanan. Berharap semoga hujan tidak turun dulu selama perjalanan ke JNE. Ah..baru sekarang terasa tiap detik begitu berharga..Subhanallah, saya masih diingatkan oleh Allah SWT atas semua kemurahan, rezeki, dan limpahan rahmat-Nya yang saya terima darinya di tiap detik kehidupan ini..

Written by dr. Gama Diswita

August 6, 2009 at 05:56

Posted in Uncategorized

From BB Curve 8310 to 8320 Black ROGERS

with one comment

Akhirnya punya juga sebuah handset Blackberry Curve 8310 Titanium dengan carrier Vodafone. Setelah membuat tulisan pro-cons tentang BB akhirnya saya malah dihadapkan dengan kondisi pekerjaan yang mengharuskan saya untuk bisa mengakses email secara real time dan tuntutan respon akan jawaban email menyangkut pekerjaan yang cukup cepat. Nasib, kualat kali bikin ulasan kemarin.untung saya tidak bikin ulasan pro cons tentang volkwagen caravelle:D,bisa-bisa kualat trus dipaksa beli caravelle:D hue hue

Yap!,pertama kali yang muncul dikepala saya adalah pusing membayangkan berapa harga sebuah handset BlackBerry, mahal!.tapi tunggu dulu, mahal tidaknya sebuah barang itu relatif dibedakan dari tingkat manfaat yang didapatkan. Sesuai hukum ekonomi ala saya, minat utama saya adalah mencari handset yang tidak terlalu mahal tapi bisa dioprek sepuasnya:D

Setelah menimang-nimang isi dompet dan meminta masukan dari para dedengkot BlackBerry akhirnya terpilihlah handheld BlackBerry Curve 8310 titanium versi limited dengan carrier Vodafone untuk menemani aktivitas saya. Thanks buat bro di Surabaya yang telah membantu memilihkan handset yang tepat untuk saya. Tepat, Murah, dan dibawah harga pasaran..serta resmi dengan segel ditjen postel untuk menjamin kenyamanan berakses menggunakan blackberry service.

Kesan pertama menggunakan handheld is,amazing sekaligus bingung:D. That’s very rare machine with specific interface, unlike windows mobile. Banyak item dan icon baru yang sama sekali berbeda dengan device yang lain. Sampai harus dipandu via telpon untuk mengeset blackberry servicenya..then it has been done..push email aktif, bb messenger jalan, browsing cepat, bisa register sampai 10 alamat email. Busyet begitu salah satu alamat email yang saya khususkan untuk milis diregisterkan ke blackberry service langsung deh inbox Curve saya dipenuhi oleh ratusan emailL.

Yang bikin saya puas, selain push emailnya, kita bisa mengunduh file lampiran yang disertakan dalam email sekaligus melakukan beberapa koreksi terhadapnya, efektif!, fitur fun yang cukup cerdas lagi yang menurut saya sangat berguna adalah fitur silent yang otomatis dijalankan pada saat handset masuk kedalam leather casenya.

Batere irit, cukup bermanfaat dengan aktivitas penggunaan handheld saya yang cenderung ‘diluar kewajaran’.

Yupe, tapi handset ini tidak bertahan lama, secara teman ada yang menawar handset saya dengan harga yang reliable dan kebetulan setelah hampir seminggu bercengkerama dengan Curve saya mulai menemukan sebuah handset blackberry idaman yang wajib saya miliki, yaitu BlackBerry Curve 8320 dengan carrier ROGERS asli Canada warna hitam. Blackberry seri terbaik dari kanada yang banyak dibicarakan dan dicari oleh para blackberryzm.Pertama kali di Indonesia…kebetulan pula ada teman yang berbaik hati membawakan pesanan saya dari Kanada.

 Dan hari ini, Jum’at 06 Februari 2009 jam 09.00, InsyaAllah BlackBerry Curve 8320 Black Rogers saya datang..Welcome..willkommen..binvenutoo                       

 Say Thanks to my titanium BlackBerry Curve 8310..it’s very workfull

 

Written by dr. Gama Diswita

February 6, 2009 at 04:04

Penggunaan UMPC, Netbook, Notebook, dan Desktop impian ala Saya..

leave a comment »

Begitu banyak perangkat kerja bergerak yang mudah dibawa kemana-mana dengan begitu mudahnya saat ini. Ringan, ringkas, dan tidak tampak menarik perhatian orang lain (baca maling) yang ingin berbuat jahat karena ada niat dan kesempatan. Pun demikian halnya dengan saya, kemudahan dan pergerakan harga perangkat kerja bergerak yang semakin hari semakin murah mendorong saya untuk bisa merealisasikan bayangan mengenai OFFICE MEDIA CENTER yang pas untuk saya. Mungkin sebuah keuntungan bagi saya selama tinggal di Jakarta saya banyak berinteraksi dengan berbagai variasi personal dan mengamati trend yang ada di seputaran meeting point. Banyak yang bekerja dengan perangkat bergerak (baca: bisa laptop maupun handheld) dari notebook berlayar besar hingga handheld yang cukup kecil. Efektifkah itu semua?,lalu apakah perangkat besar yang dahulu sering membantu kita dalam menyelesaikan pekerjaan kita (baca: desktop) akan hilang bersama arus modernisasi dan mobilitas para pekerja?

 Motivasi utama saya saat ini adalah bagaimana bisa mengoptimalkan perangkat bergerak yang saya miliki untuk menunjang pekerjaan saya. Desktop masih merupakan perangkat komputasi yang ideal bagi saya. Bayangkan saja dengan harga yang tidak terlalu mahal saya bisa mendapatkan sebuah komputer lengkap dengan fasilitas yang hampir sama dengan sebuah notebook hi-end yang harganya sampai menembus angka tujuh digitJ, lengkap dengan layar datar resolusi tinggi tentunya.

 Desktop bagi saya bisa digunakan untuk pekerjaan dirumah, dan multi pengguna. Dengan satu buah desktop saya berharap bisa lebih efisien dalam bekerja, mengontrol koneksi internet ke seluruh ruang dengan menjadikan desktop sebagai router wi-fi, memasang media center untuk mengakses hiburan dan tayangan edukasi bagi anak-anak saya, mengawasi pengguanaan internet untuk anak, dan tentu saja dengan sebuah komputer desktop berkecepatan tinggi rasanya cukup gegas dalam mengolah sebuah pekerjaan.Idaman: sebuah desktop branded dibawah 5 juta.

 Notebook selama ini saya gunakan sebagai desktop replacement. Alasan utama memiliki notebook adalah saat bekerja saya harus memiliki sebuah alat komputasi bergerak yang bisa dipakai untuk kerja saat berada di luar kota, karena waktu itu saya lebih banyak ditugaskan keluar kota. Walhasil dalam rangkaian impian OFFICE MEDIA CENTER saya, justru malah notebook yang pertama kali masuk dalam list have already been saya. Sebenarnya dalam memilih notebook saya tidak terlalu tertarik memiliki sebuah notebook dengan spesifikasi terlalu tinggi, harap maklum saya lebih suka menelusuri forum jual bli notebook seken untuk mencari device yang tidak terlalu mahal harganya.

 Saya justru menginginkan sebuah mini notebook alias netbook untuk menunjang aktivitas harian saya.karena aktivitas saya hanya pada kegiatan office ringan saja, hehehe kadang kalau pas lagi banyak pasien di UGD notebook hanya menyala sampai pergantian jadwal jaga berikutnyaJ.

Idaman : Netbook MSI Wind Notebook

 Untuk UMPC, walau saat ini saya merawat sebuah UMPC Sony VAIO VGN UX-180P milik ibu saya,namun tidak sampai membuat saya untuk berkeinginan mencari handset serupa ini. Selain harganya mahal, fiturnya juga kurang efektif untuk saya. Uang 7 digit lebih hanya untuk membeli UMPC?duh, rasanya kok seperti mau menelan garam saja ya…..

Jadi, kesimpulan tulisan saya bisa digambarkan seperti ini:

Saya dan keluarga cukup menggunakan satu buah desktop (branded dunk) untuk aktivitas komputasi utama, dari mulai download hingga menyelesaikan pekerjaan dan sekedar bermain. Untuk di kantor dan aktivitas di luar lainnya saya menginginkan sebuah netbook yang ringkas, kecil, dan tentu saja irit batere dan tidak menarik perhatian orang lain. File pekerjaan bisa saya buat dan edit di desktop rumah sementara untuk minor checking dan change bisa dikerjakan sambil minum kopi atau menunggu pasien datang:D.bawa note book besar..beraaat jack!

 UMPC…untuk sementara belum perlu lahJ, kecuali buat gaya

 

 

Written by dr. Gama Diswita

February 3, 2009 at 06:08

Posted in Uncategorized

Emang dagang itu aneh bagi dokter?

leave a comment »

Dokter kok Jualan…..memang aneh ya??

 

Banyak yang heran kalau melihat profesi saya sebagai dokter masih suka nyambi jualan gadget.

Apakah ada yang aneh dan salah dengan hal itu?

Ada yang mengatakan tidak lazim

Ada juga yang dengan sinis berkata kurang kerjaan…

Ada pula yang mengatakan dengan ketus sok kelebihan duit…

Ada pula yang lain dan yang lain….

 

Heran aku…

 

Padahal,

Jiwa utama seorang manusia adalah berniaga..

Berniaga bisa menyeimbangkan dan menjembatani antara emosi dan rasio..

Berniaga dapat memberikan kepuasan bathin dan rasa tanggung jawab,terutama bila modal berasal dari diri pribadi

Berniaga tidak harus selalu dengan modal besar dan kapitasi tinggi

Berniaga bisa di lapangan usaha apapun,

Dengan berniaga kita bisa belajar memanajemen resiko,

 

Kalau saya,

Saya menikmati  berapapun profit baik material maupun immaterial yang saya dapat dari berniaga,

Zero profitpun menyenangkan bagi saya,

Saya menikmati proses tawar menawar harga di internet,

Saya menikmati proses yang bisa saya kerjakan sambil bekerja sebagai seorang dokter,

Saya menikmati desiran adrenalin yang muncul saat menemukan dan menawar harga barang yang sangat bagus sambil bersaing dengan pedagang lain..

 

Saya tidak melanggar sumpah hippokrates,

Saya bekerja sebagai dokter

Saya juga berniaga,

Tapi saya tidak meniagakan profesi saya sebagai dokter

Begitulah…

 

Written by dr. Gama Diswita

January 27, 2009 at 06:39

Posted in Uncategorized

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.