antara kuliner dan 100 tahun kebangkitan nasional
Entah sejak berapa lama gw sering mengamati berbagai perilaku masyarakat yang cenderung banyak mengalami transformasi budaya hingga kadang lupa pada akar budaya aslinya termasuk dalam hal memilih makanan. Sejak Om Bondan dengan logo Mak Nyussnya muncul di sebuah stasiun televisi swasta ada satu kebiasaan baru masyarakat untuk kembali mencari hal-hal unik yang menjadi ciri khas dari masing-masing tempat. Sedikit banyak teman-teman gw cerita bahwa walau lama tinggal di perantauan, lidah mereka tetap mencirikan lidah rasa daerah asal mereka. Ada temen gw yang hobi makan makanan dengan taburan merica tebal, ditaburi rempah-rempah harum dan kuah yang memerah ala sumatera dan sangat intoleransi dengan masakan kota asal gw yang cenderung manis. Hal yang membuat gw dan teman gw tersebut akhirnya harus rela untuk berjalan berjam-jam menyusuri jalan protokol utama di kota gw mencari beberapa warung makan dengan selera yang diinginkan oleh teman gw tersebut. Secara gw nemu beberapa warung makan gaya sumatera yang menurut gw udah sangat nendang cita rasa sumateranya, tapi hanya dengan satu kata dia yang bilang : “terlalu manis”…. Bikin gw jiper jg. Begitu tajamnya lidah orang yang dibesarkan dengan kuliner masakan ala sumatera, walau lama tinggal dan merantau di tanah jawa untuk sekolah sensitivitas lidahnya tidak berkurang. Padahal berapa kali sudah gw coba cekokin dengan makanan khas kota gw yang udah jadi icon kota gw. Psst jgn bilang-bilang kalo gw seringkali mengalami gastroenteritis akut et kausa merica dan makanan kuah merah tiap kali gw datang ke rumah makan seperti itu, jadi indikator gastroenteritis gw ternyata bukan merupakan sebuah indikator yang cukup valid untuk menilai keaslian sebuah cita rasa makanan. Phew..mengerikan juga, gw tidak tau gimana jadinya bentuk gaster (baca:lambung) gw kalo memakan makanan yang bener-bener aslinya..semoga tidak sampai harus menjalani endoskopi untuk menilai bagaimana perubahan dinding lambung gw. Secara akhirnya gw dan temen gw menemukan sebuah rumah makan dengan arsitektur sederhana namun berhasil mendapatkan stempel asli dan top markotop dari temen gw, dan ternyata benar hipotesa gw bahwa gw harus mengalami gastroenteritis akut yang lebih berat lagi dan memaksa gw untuk mengambil obat yang jauh lebih poten lagi di apotek tempat gw biasa praktek supaya gw tetep bisa survive dalam petualangan kuliner bersama temen gw ini.
Begitu hebatnya kemampuan sebuah media dalam membentuk opini masyarakat secara tidak langsung juga turut mengubah perilaku masyarakat dalam menerjemahkan arti kuliner dan makanan yang top markotop itu seperti apa. Memang tidak ada bentuk anatomi kuliner yang tepat untuk menggambarkan bentuk kuliner yang digemari untuk setiap orang, namun setidaknya perilaku masyakarat yang terkadang gw amati mulai bergeser kearah proses yang lebih singkat, instant, dan kurang essensial yang pada akhirnya menjadi sebuah gaya hidup dengan munculnya berbagai rumah makan dengan gaya bervariasi mulai dari oriental klasik hingga modern yang banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk melepas rasa laparnya, begitu hidup dan sangat digemari, hal yang memang tidak bisa kita hindari. Pikiran saya kemudian melayang kembali membayangkan sebuah kafe ceret telu jogja (alias warung angkringan) yang tidak pernah kalah ditelan deras dan kejamnya inflasi dan resesi global namun dengan kesederhanaan konsepnya mampu menjadi ciri khas dan memiliki penggemar fanatik-hal yang seharusnya kita jaga bersama supaya tidak hilang di kemudian hari.
Om Bondan dalam suatu lawatannya ke kota Solo yang merupakan salah satu gudang wisata kuliner di Jawa sempat mengeluhkan susahnya mencari beberapa item makanan kecil yang dulu biasa dia jumpai di salah satu ujung pasar. Kemanakah gerangan item makanan kecil tersebut menghilang, apakah bermetastasis jauh hingga ke luar pasar ataukah memang mulai menghilang satu demi satu?,apakah nantinya identitas kita sebagai bangsa yang memiliki beragam keunikan cita ras makanan akan tergerus oleh derasnya arus waralaba makanan modern dan asing?apakah nantinya anak cucu kita tidak bisa lagi melihat dan mengenal makanan tradisional baik makanan ringan untuk kudapan hingga sajian berat untuk makan besar di meja makan bersama keluarga dan mulai tergantikan dengan berbagai makanan modern yang memang tampak jauh lebih menarik, bergengsi dan lebih bernilai komunitas.
Gw bukannya kontra dengan berbagai liberalisasi makanan dan kuliner asing yang masuk ke negara kita, secara masuknya berbagai menu baru bisa memperkaya pengalaman lidah gw dalam beradaptasi dengan (makanan) negara lain, tapi gw tetap cinta makanan asli Indonesia yang juga belum sempat gw cicipin semua sampai saat ini, dan gw pengin semua seni kuliner Indonesia bisa tetap eksis dan dinikmati sampai nanti. Gw bangga jika melihat banyaknya warung-warung makan asli Indonesia yang tersebar di seluruh daerah dan bahkan ada beberapa yang bisa dijumpai di luar negeri. Sehingga generasi setelah gw dan seterusnya (ealah..emang gw generasi keberapa yak…) bisa dan tetap bangga dengan produk bangsa sendiri. Beberapa tempat makan klasik di kota gw sudah pernah gw coba bersama dengan istri dang w kasih stempel mantapp!!! Ala gw dan istri, gw sama sekali gak bosen-bosennya tiap akhir pekan muter kota asal gw untuk mencari tempat kuliner baru.
Memang ide asli Om Bondan untuk mempopulerkan wisata kuliner ini bisa dibilang jempolan, kalo cm two thumb aja gw rasa tidak cukup sebagai bentuk apresiasi orisinalitas ide beliau. Walau sejak kecil gw sering banget baca komik-komik yang bertemakan memasak seperti born to cook (yang akhirnya difilmkan dan diputar di salah satu televisi swasta), gw sama sekali belum terpikir untuk suatu saat mengemas sebuah konsep acara makan-makan seperti milik om Bondan ini. Bersama pesan yang disampaikan oleh Om Bondan dalam tiap episode acaranya selalu menyambung dalam benak gw bahwa kalau bukan kita yang menjaga harta kuliner kita, siapa lagi?
100 tahun kebangkitan bangsa bisa kita interpretasikan dalam berbagai hal, mulai dari energi alternative sampai kampanye global warming. Kalo gw dengan cara mencari terus kuliner Indonesia yang masih tersembunyi di berbagai sudut pada saat gw senggang dan ada suasana hati untuk berjalan-jalan, secara gw memajukan per-kuliner-an Indonesia adalah bentuk dari 100 tahun kebangkitan bangsa, kebangkitan kuliner Indonesia untuk melawan liberalisasi kuliner asing yang menyerbu bangsa kita. Dengan makan sajian Indonesia kita memperdalam identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena kandungan lokal perut kita penuh dengan bahan baku muatan lokal J, jadi tidak Cuma mata pelajaran aja yang punya satuan pelajaran muatan lokal, dunia kuliner juga punya hehehe…
..::renungan disaat menunggu pesanan Mie Nyemek pak Rebo deket THR, salah satu cagar kuliner asli yang harus dipertahankan di tengah maraknya liberalisasi kuliner::..
nice info…
mampir ke blog ku ya…
orchi
March 12, 2010 at 15:53