Everything is only things until we read and comment it

..::a simple reflection of us to face the real world::.

Archive for January 2009

Emang dagang itu aneh bagi dokter?

leave a comment »

Dokter kok Jualan…..memang aneh ya??

 

Banyak yang heran kalau melihat profesi saya sebagai dokter masih suka nyambi jualan gadget.

Apakah ada yang aneh dan salah dengan hal itu?

Ada yang mengatakan tidak lazim

Ada juga yang dengan sinis berkata kurang kerjaan…

Ada pula yang mengatakan dengan ketus sok kelebihan duit…

Ada pula yang lain dan yang lain….

 

Heran aku…

 

Padahal,

Jiwa utama seorang manusia adalah berniaga..

Berniaga bisa menyeimbangkan dan menjembatani antara emosi dan rasio..

Berniaga dapat memberikan kepuasan bathin dan rasa tanggung jawab,terutama bila modal berasal dari diri pribadi

Berniaga tidak harus selalu dengan modal besar dan kapitasi tinggi

Berniaga bisa di lapangan usaha apapun,

Dengan berniaga kita bisa belajar memanajemen resiko,

 

Kalau saya,

Saya menikmati  berapapun profit baik material maupun immaterial yang saya dapat dari berniaga,

Zero profitpun menyenangkan bagi saya,

Saya menikmati proses tawar menawar harga di internet,

Saya menikmati proses yang bisa saya kerjakan sambil bekerja sebagai seorang dokter,

Saya menikmati desiran adrenalin yang muncul saat menemukan dan menawar harga barang yang sangat bagus sambil bersaing dengan pedagang lain..

 

Saya tidak melanggar sumpah hippokrates,

Saya bekerja sebagai dokter

Saya juga berniaga,

Tapi saya tidak meniagakan profesi saya sebagai dokter

Begitulah…

 

Written by dr. Gama Diswita

January 27, 2009 at 06:39

Posted in Uncategorized

How to select that any menu in the café is delicious for U?,lets try my opinion. It might be useful:D

leave a comment »

Enggak di Jogja maupun Jakarta banyak sekali kafe yang berjamuran di sepanjang jalan mulai dari yang berada di sekitar kompleks perkantoran dan pusat perbelanjaan sampai yang ada di pinggir jalan kompleks perumahan, bahkan dikampungpun juga adaJ.

Bukan masalah kafenya yang akan saya bahas tapi mengenai menu yang ada di masing-masing kafe.Oke, mari kita perhatikan bersama bahwa hampir semua kafe menyajikan menu yang serupa. Pertanyaan klasik yang muncul bagi saya cukup sederhana, manakah diantara semua menu tersaji ini yang cukup tasty bagi lidah saya..

Wah kalau harus melakukan survey kecil2an untuk memastikan menu mana yang jadi favorit pengunjung kafe sih bisa-bisa tulisan ini nggak selesai:D. Saya ingat pengalaman saya waktu pertama kali Starbuck kafe dibuka di kota Yogya..my first dan beloved first city..saya sempatkan untuk mampir kesana sekedar mencoba rasa kopinya yang katanya sudah sangat popular.

Saya yakin setiap orang pasti pernah mengalami ‘sindroma bingung memilih menu’ saat pertama kali datang ke rumah makan atau drink stall, termasuk saya..walau sudah berulangkali keluar masuk kafe sekadar untuk berinternet dengan lappy kesayangan tapi tetap saja kalau mencoba menu di kafe baru selalu gagap

Kolega saya banyak yang merekomendasikan menu A, B, C, dan D yang menurut mereka maknyoss.Walah walah,pusing juga kalau harus memandangi dan memilih salah satu menu dari sekian tampilan menu yang ada, selain itu menunya kadang abstrak pula (bayangkan saja harus memilih salah satu menu, mengartikan maksud nama menu, dan GPL tentunya-gak pake lama- mode on, biar gak disangka o’on sama drink beveragernya hehehe).

Resikonya kadang ya dapet drink yang yahud tapi kadang juga dapet drink yang puahitttnya setengah mati (kayak jamu boo!!!),tapi ngelesnya kata orang-orang lain bilang itulah citarasa kopi sejati…pahit dan bikin melek terus.benarkah kopi bikin melek,secara saya tiap jam 21.00 sudah menggelayut mengantuk.

Tapi sayang juga kalau hanya memesan menu minuman yang itu-itu terus tiap kali datang ke kafe ini..,dalam hati saya berpikir sudah jauh-jauh datang dan bayar mahal untuk ukuran dompet saya mosok rasa dan aromanya sudah bisa saya rasakan dari jauh pulaL.

Jadi tips untuk saya pribadi utk menilai jiwa kuliner baik makanan dan minuman adalah dengan cara seperti dibawah ini..(monggo ini hanya ulasan pribadi,jangan dijadikan prosedur tetap ya, secara nilai subyektifitasnya cukup tinggi) :

 

  1. Jangan alergi untuk mencoba menu lain yang terpampang di front desk, tiap minuman punya karakter masing-masing kok.cobalah untuk menemukan spirit dari hal itu (tapi kalau dapet yang bener2 pahit nggak boleh marah ya:D)
  2. Jiwa seni kuliner adalah mencoba hal dan rasa yang baru.pun begitu dengan menu yang ada di front desk,biasanya adalah hasil kreasi dan imajinasi pembuatnya,jadi pasti ada taste-nya lah..cuma sekarang biarkan lidah anda yang bicara enak atau tidak.orang bijak bilang makanan dan minuman itu cm enak dimulut.kalau sudah lewat tenggorokan udah tidak berasa lagiJ
  3. Minumlah sesegera mungkin:D,dan saat haus dahaga membelit tenggorokanmu.satu gelas plastik kopi atau non kopi pasti cukup berkesan:D
  4. Yang lainnya masih dipikirkan dulu

 

Kopi dan non kopi semuanya nikmat…

Hitam pekat atau tidak hitam semuanya memberikan kecerahan dan ketenangan…

Aromanya kuat menghembuskan semerbak citarasa pribadi…

Rasanya liat di lidah, tidak mudah dilupakan…

Ampasnya memberikan jejak yang tegas dan kuat bagi pembentukan karakter…

….

Bikin kopi dulu ah

 

 

Written by dr. Gama Diswita

January 27, 2009 at 06:21

Posted in Uncategorized

Blackberry again and another berry…☺, sebuah ulasan singkat tentang self awareness

leave a comment »

Sudah hampir 5 bulan aku tinggal di Jakarta, kota yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya untuk menjadi the next venue for my next job. Dari adaptasi mengenai kemacetan hingga susahnya mencari tukang pompa ban di pinggir jalan aku mulai mencoba untuk menelisik salah satu sisi kehidupan nadi kota Jakarta..tentu saja tidak lepas dari pandangan kacamata awamku untuk menilai kebiasaan para penunjang urat nadi kota Jakarta, yupe orang-orangnya… Sesaat semua tampak sama, dari aktivitas, pakaian, kebiasaan, cara nongkrong, sampai cara merokoknya:D, tapi ada satu yang beda, hampir sebagian besar membawa handset dengan neckstrap berwarna-warni norak.

Kebetulan waktu browsing di kafe disampingku ada seorang customer yang sedang nyeruput kopi campur sambil memainkan handset yang serupa tadi.Kesempatan untuk melirik handsetnya..!!!….sambil diperhatikan lebih jauh dan penasaran akan wujud asli dari handset warna warni yang dipegang ternyata aku tidak merasa asing dengan logo yang melekat di handset itu, that’s RIM (Research In Motion) Canada Product a.k.a Blackberry!.Produk lama yang pada promo perdananya waktu itu kurang berhasil memikat pasar apalagi memikat user untuk berpaling dari handset yang jauh lebih popular waktu itu.

Bukan Blackberrynya yang menarik perhatianku saat itu, tapi sejak kapan booming Blackberry begitu membius bagaikan virus akut di Jakarta, dan mungkin kota besar lain di Indonesia( iya nggak sih?)..ada yang punya alasannya? Luar biasa penetrasi dari handset yang satu ini. Dalam waktu yang tidak terlalu lama menurut pengamatan langsung saya..hee jangan samakan dengan lembaga survey terakreditasi ya..secara aku cuma mengamati orang yang lewat didepanku sewaktu sedang jalan-jalan. Dimana-mana blackberry dijumpai, semua seri blackberry bermunculan, termasuk seri lama yang mungkin sudah discontinued dan out of date pun diburu..blackberryzm (sebutan untuk para pengguna blackberry) begitu kuat mengakar. Yang aku pikirkan sejak kapan orang-orang mulai menyukai qwerty keyboard phone ya…,dan apakah semua fitur di blackberry bisa dimaksimalkan. Hmm kalau hanya untuk kepentingan fashion rasanya ini handset terlalu jauh dari genggaman deh..too expensive coy!

Penasaran akan handsetnya, aku menelusuri lebih lanjut fitur-fiturnya via diskusi forum. Suatu ketika ada kesempatan untuk mencoba menggunakan Blackberry Bold punya teman (blackberry sek paling luarang dhewe)..,sambil sedikit takjub tak percaya memandangi handset kecil tidak mungil dan agak gendut ini harganya lebih mahal dari notebookku..ampuun. Kesan pertama handheld ini cukup elegan dan menarik, warna hitamnya yang dibalut silicon case warna hitam semakin mempertegas karakteristiknya..duh jadi pengen..hehehe sabar-sabar,singkirkan dulu nafsu yang terbentang didepan mata,ayo berpikir rasional. Qwerty keyboardnya nyaman dan empuk, layar cukup memikat..ringtone..biasa aja,aku lebih ingin untuk segera mencoba fitur utama blackberry: push email. Sebagai pecinta gadget, handset priority mode-ku mengatakan aku tidak terlalu memerlukan handset ini.., Why, let we see selection summary of my self awareness using this one :

1. Terlalu Mahal (untuk saya), dari sisi handset dan biaya berlangganan fitur blackberry servicenya. Terutama untuk menarik email real-time, Chatting, dan BB service lainnya. My Self awareness is :D i notebook dan di komputer rumah sudah tersedia internet unlimited yang senantiasa menemani dalam berselancar di dunia maya termasuk checking email. My Trusty Eten Glofiish M700 dan PalmOne Treo 680 masih mampu melayani permintaan komunikasi dataku yang terhitung cukup ringan jika hanya aku gunakan untuk Chatting. Saya belum memerlukan pembalasan respon email real time.perlu push email?,gampang,tinggal instalasikan software push email..banyak kok yang gratis..hindari pembajakan dong☺

2. Belum punya komunitas Blackberry (hiks..hiks). hehehe bisa dihitung berapa banyak rekan sekerjaku di klinik dan rumah sakit yang menggunakan handset ini. My self awareness is : komunitas membentuk ciri nonspesifik individu, kenapa non spesifik yang kutekankan karena hal ini merupakan karakter tambahan seseorang yang dibangun dari lingkungan sekelilingnya.dari sisi social, aku tidak perlu menggunakan blackberry hanya untuk menarik perhatian rekan sekerjaku dan untuk semakin mentahbiskan diriku sebagai gadget mania (hayah…:P). sedih deh, mosok hanya karena bawa handset yang sedikit nyleneh alias uncommon langsung dicap sebagai gadget freak.

3. Pekerjaan utamaku saat ini. Sebagai dokter dan praktisi pelayanan kesehatan waktu jaga klinik yang kuperlukan hanyalah sebuah handset yang batrenya tahan lama, gampang untuk nulis pesan, mudah untuk menghubungi siapapun kalau ada kasus kedaruratan medik, dan bisa digunakan untuk main game ringan dan chatting pas lagi bosen. Kalau baru niat belajar ya baca medical e-book, dan (weks) textbook. Side activity-ku as a junior medical information system officer belum memerlukan push email untuk merespon input dari atasan.

4. Takut menjadi antisosial hehehe. Ini yang paling aku takutkan. Secara jam terbangku di depan notebook cukup tinggi walau hanya untuk menulis dan berinternet, kekhawatiran apabila euphoria blackberry nantinya menyita seluruh waktuku even hanya untuk chatting dan browsing in everytime and place cukup menjadi pertimbangan utama yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

5. Motivasi. Belum termotivasi beli handset baru lagi.orientasi utama saat ini menabung,hehehe

THAT’S ALL REASONS,

Bingung..,Aneh..,Heran,..atau Bahkan Marah…?-No offence Please,

Ini hanya pendapat pribadi, hasil dari self awareness dan suara hati yang jujur saat mencoba handset blackberry bold 9000 di lobi lantai 9 sebuah hotel di bilangan Slipi Jakarta Barat. Tulisan ini hanya merupakan ungkapan pribadi penulis tentang perlunya kita melakukan sikap peduli diri dalam mensikapi semua gelombang yang muncul. Tentang perlunya kita melakukan tolok ukur diri dalam memberikan penghargaan terhadap diri.

Sambil berpikir..sebenarnya asik juga kalau punya Blackberry ….

Hehehe Dasar gadget prik..pinginan:D

Mungkin suatu saat nanti perlu..tapi tidak saat ini…

Kenapa ya namanya Blackberry bukan blueberry atau berry yang lain…

entahlah..

Written by dr. Gama Diswita

January 22, 2009 at 15:32

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.