Everything is only things until we read and comment it

..::a simple reflection of us to face the real world::.

Archive for July 2010

saat inkonsistensi terasa sangat menyebalkan..

leave a comment »

Kita hidup di sebuah tatanan kehidupan yang penuh dengan toleransi dan kebersamaan. Dengan adanya toleransi dan kebersamaan itu benturan, friksi, dan konflik yang muncul dalam kehidupan sehari-hari tidak berkembang menjadi  sebuah pertikaian maupun perpecahan besar yang berujung pada disabilitas nasional (hehe). Toleransi dan kebersamaan itu sering bermutasi dan tampil dalam wujud lain yang lebih umum kita nikmati bernama ‘kompromi’. Kompromi merupakan suatu permutasi hasil yang berorientasi pada kepuasaan kedua belah pihak. Namun tidak selamanya hasil kompromi atau ‘kompromisasi’ itu mempunyai perimbangan yang adil untuk kedua belah pihak yang bersitegang atau sedang mengalami gesekan, apalagi jika melihat hal yang akan dikompromikan itu memang merupakan sebuah pola yang sangat susah diubah karena jeratan kultur yang sudah demikian mengakar kuat hingga masyarakat lebih memilih jalur kompromi yang tampak dalam bentuk budaya kompromistis daripada melawan suatu hal yang hasilnya sudah bisa dilihat, yakni dengan hasil  perlawanan tanpa perubahan. Inkonsistensi merupakan salah satu akar dari permasalahan timbulnya budaya kompromi yang kurang sehat di masyarakat. Diantaranya adalah kompromi mengenai pelayanan publik yang kurang maksimal. Sayangnya masih banyak yang mengartikan budaya kompromistis ini sebagai bentuk dari ‘win-win solution’.

Tulisan diatas sebenarnya hanya pengantar saja tentang hal yang belum lama ini saya alami. sebagai seorang plegmatis yang juga melankolis sempurna, saya sudah terbiasa mengkombinasikan kesempurnaan pada suatu hal sampai ke hal yang membutuhkan kompromi. Dalam pandangan saya, daripada memaksakan suatu hal yang belum tentu memberikan hasil maksimal lebih baik diam dan memberikan sugesti positif pada diri sendiri bahwa memang mungkin belum saatnya kita mendapatkan hasil maksimal menurut kriteria kita. Namun jika membicarakan kelemahan layanan publik, kadang satu titik hal yang menjengkelkan bisa menjadi aktivator buruk bagi nilai kompromi yang sudah saya lakukan. Sudah banyak kompromi terhadap layanan publik (dalam hal ini jasa transportasi publik) dalam pandangan saya, misalnya mikrolet yang suka menyetel musik dalam kabin cukup keras, sopir angkutan umum yang tidak menghargai penumpang, transmetro busway yang tidak tepat waktu dan pakai aksi berhenti sejenak, sebagian oknum taksi yang tidak mau memakai argo atau malah ber argo kuda, sampai layanan taksi gelap di bandara yang tidak pernah belajar bagaimana cara melayani calon penumpang dengan baik. Tulisan protes dan barisan kalimat berisi masukan sudah sering saya kirimkan ke surat kabar, kotak saran, sampai langsung saya sampaikan ke pengemudi angkutan, namun hasilnya nihil..mereka katakan hanya menjalankan tugas dengan kondisi yang sudah seperti ini………YAP, lagi-lagi kita terjebak dalam jeratan kultur, dan saya cukup sabar serta kompromis.

Sampai suatu hari nilai ambang kompromi saya hampir mencapai batas dan meledak hanya karena hal yang sebenarnya cukup sederhana. Waktu itu saya sedang menunggu panggilan boarding pesawat menuju Jakarta. Karena hanya membawa sedikit barang saya putuskan untuk membawa masuk barang bawaan saya saya ke dalam bagasi kabin pesawat. Setelah melihat ke display jadwal keberangkatan saya bergegas duduk di dekat gate yang menjadi pintu masuk penerbangan saya, alasannya cukup sederhana, dengan duduk di kursi dekat gate saya punya peluang untuk masuk pesawat lebih dahulu. itu akan mempermudah saya untuk memilih dan memasukkan bagasi saya, dan sedikit bangga karena menjadi salah satu orang pertama yang diberi ucapan selamat datang di kabin oleh pramugari ( hehehe).

Ok, setelah duduk di ruang tunggu dan pasang PW (posisi wuenakk), saya keluarkan beberapa senjata saya untuk mengusir bosan sambil menunggu waktu. Kuketukkan jemariku di atas keyboard laptop gembrot kesayanganku untuk membuka laman website di  internet dengan alunan musik jazz dalam stereo headset, sambil sesekali ponsel pintarku berteriak tanda ada email dan pesan singkat masuk. Haha, ini kemenangan dan orgasme atas kepuasan saya dalam menikmati situasi. Sampai akhirnya  terdengar panggilan boarding dialunkan oleh petugas, hanya herannya kenapa semua penumpang bergegas menuju ke gate di sebelah, ???….sambil membuka stereo headset, pandangan saya langsung menuju ke display departure schedule dengan rasa tidak percaya dan mau marah karena gate untuk menuju pesawat saya telah diganti ke gate sebelah………………

Sontoloyo batin saya, sambil bergegas mematikan dan menutup laptop saya segera mengangkut barang bawaan saya dan berlari menuju ke gate sebelah dan bisa ditebak, saya ikut antrian di baris belakang F@#$%*^ S**T. Baru deh terasa barang bawaan saya meski Cuma sedikit tapi terasa berat, 1 travel bag ukuran 17, tas ransel besar berisi laptop dan bahan kerja, serta satu kotak sedang oleh-oleh yang jika dimasukkan dalam bagasi pesawat secara sembarangan bisa hancur karena isinya kerupuk dan keripik. Rasanya kompromi saya sudah hilang dan siap saya ledakkan ke siapa saja yang berhubungan dengan penentuan gate dan penunjangnya. Yah, untungnya terucap istighfar yang panjang dan kemarahan ini perlahan mereda, hanya jengkelnya yang tak kunjung hilangL.

Ini baru di bandara yang ‘ngakunya’ internasional dengan gate yang berdekatan, coba bayangkan jika hal itu terjadi di sebuah bandar udara internasional dengan puluhan gate dan jarak yang lumayan jauh, bagasi yang lumayan banyak dan sedikit mengalami distorsi budaya dan bahasa masalah yang sederhana seperti itu bisa menjadi hal yang luar biasa.

Kalau untuk yang satu ini saya sudah tidak bisa kompromi lagi.

Written by dr. Gama Diswita

July 4, 2010 at 20:04

Posted in Uncategorized

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.